Category Archives: Uncategorized

Tes Irit Octane Booster

Tes Irit Octane Booster  di Kota Bunga Edisi lalu OP lakukan uji performa 7 macam octane booster yang dicampur dengan BBM jenis Premium. Dari hasil pengujian di atas mesin Dyno Star bikinan Belanda milik Laboratorium Motor ListrikITS, ada 2 merek yang moncer melibas bbm Pertamax yaitu Power & Clean dan Orca. Kali ini OP menguji tingkat keiritan octane booster ini, dengan cara tes jarak tempuh di jembatan Suramadu karena relatif lancar. Kapasitas masing-masing yang diisikan pada tangki Honda New Supra x 125 Fi lansiran 2015 sebanyak 250 ml. Motor berteknologi injeksi yang masih gres ini baru berumur sebulan. (Naskah & Foto : Wiwied) Pertamax BBM warna biru menjadi tester pertama. Ponari, pemilik Honda New Supra X 125 Fi melaju dengan kecepatan moderat antara 40-50 km/jam di tengah kepadatan menjelang waktu berbuka puasa. Odometer awal 1.050,8 km berhenti di 1.066,6 km, sukses tempuh 15,8 km. Premium + Power & Clean Tabung kedua yang berisikan BBM Premium yang sudah dioplos dengan Power & Clean diisikan kembali sebanyak 250 ml ke dalam tangki. Motor pun berjalan di lalu lintas yang mulai lenggang menuju Jembatan Suramadu.

Motor ndut-ndutan di angka odometer 1.079 Km, jarak tempuh diraih 12,4 Km. Premium + Orca Tabung ketiga kembali dimasukan ke dalam tangki bahan bakar. Kali ini perjalanan bebas hambatan menuju trek balik pulang ke Surabaya. Motor berhenti selepas turunan Jembatan Suramadu di daerah Kedinding Lor, Surabaya dengan jarak tempuh 12,2 Km. Acuan dari angka odometer sebesar 1.091,2 Km. Kesimpulan “Respon motor waktu pakai octane booster di putaran tengah ke atas kayak nahan. Seperti kebasahan tidak se-responsif Pertamax. Mungkin dari injeksinya perlu pengaturan ulang,” komentar Ponari. Bila Minggu lalu Premium + Octane Booster di Honda Blade karburator kondisi kompresi rendah ditandai ngebul asap putih dari knalpot sanggup libas Pertamax. Tapi kali ini Pertamax mampu pukul balik lebih irit pada Honda New Supra x 125 Fi yang masih fresh. Octane Booster yang rata-rata maksimal menambah +3 RON masih tidak sebanding dengan Pertamax murni dengan RON 92. Intinya pemilihan bbm dengan RON yang tepat sesuai besaran kompresi mampu raih hasil optimal. Jangan berlebihan dan jangan kekurangan. Pasti Pas !

Nasi Besek Jadoel Untuk Konsumsi di Acaramu

Nasikotakindonesia.com – Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai tradisi, hal ini tertanam dalam kehidupan masyarakatnya, tak terkecuali dalam hal makanan. Salah satunya adalah tradisi penyajian makanan dalam wadah besek. Bagi yang belum tahu, besek adalah anyaman dari bambu untuk wadah makanan yang sudah menjadi tradisi dalam masyarakat Hindu-Budha. Besek digunakan sebagai wadah untuk nasi kotak dalam acara-acara seperti pengajian, selamatan, ataupun acara keagamaan lainnya. Keberadaan besek sempat tergeser dengan adanya kardus kertas dan styrofoam, karena harganya yang lebih murah dan dirasa lebih praktis dalam membungkus makanan.

Baca Juga : Fergara jasa wedding organizer

Namun di era milenial seperti ini orang-orang kembali menyukai hal-hal yang berbau jaman dulu atau jadoel. Besek yang memberi kesan vintage dan old-skool kembali diminati sebagai kemasan untuk membungkus makanan saat mengadakan acara. Penggunaan besek memberi kesan kembali ke alam, alami, karena menggunakan anyaman bambu dan daun pisang didalamnya yang bisa membuat masakan menjadi lebih wangi. Kini besek bisa menjadi salah satu pilihan wadah yang terlihat mewah dilihat dari harganya, juga kita sembari tetap melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi. Selain itu, wadah besek juga tidak sekali buang, jadi masih bisa digunakan kembali, bisa sebagai wadah untuk bahan-bahan makanan di dapur, misalnya.

Untuk kamu yang tertarik untuk memesan catering nasi besek, Fergara bisa membantu kamu. Dengan berbagai menu dengan harga terjangkau, Besek Jadoel bisa menjadi pelengkap untuk acara kamu! Kami memiliki berbagai varian menu untuk Besek Jadoel, diantaranya:

Besek Cakalang Balado

Nasi besek yang terdiri dari nasi putih, cakalang balado, dilengkapi dengan kering tempe komplit juga bihun goreng, urap sayuran, dan sambal, bisa menjadi menu pilihan pertama untuk acara kamu! Cita rasa nusantara yang menjadi selera banyak orang ini dijamin bisa menjadi makanan favorit keluarga dan tamu undanganmu, hanya dibanderol dengan Rp. 30.000 kamu bisa menyajikan makanan tradisional dengan rasa yang Indonesia banget!

Besek Ayam Serundeng

Nasi putih yang pulen dan ini dilengkapi dengan lauk jawara kesukaan kita semua, yaitu ayam goreng bumbu serundeng! Tidak hanya itu, kentang balado, mie goreng, urap sayuran, dan sambal juga turut hadir melengkapi parade lauk pauk yang menggugah selera, kamu benar-benar harus coba menu ini untuk mendapatkan hati dan pujian dari para tamu undangan yang datang setelah mencicipi makanan yang kamu sajikan.  

Kisah Hidup Wolff Schoemaker juga Penuh Drama

Kisah Hidup Wolff Schoemaker juga Penuh Drama

Dia menikahi Lucie Holfstede, gadis Belanda yang dikenalnya sejak remaja di Nijmegen. Pernikahan itu menghasilkan lima anak. Namun, setelah 12 tahun, mereka bercerai. Ketika kontrak empat tahun di KNIL berakhir, Schoemaker mundur atas permintaan sendiri. Dia meniti karier di departemen pekerjaan umum, lalu di perusahaan importir peralatan teknik, Carl Schlieper & Co. Pada masa itu, dia sempat tinggal di kota-kota besar Amerika Serikat untuk mengamati karya-karya Frank Lloyd Wright. Ketika kembali, Schoemaker bersama adiknya, Richard Leonard, mendirikan firma C.P.

Schoemaker en Associate Architecten & Ingenieurs di Bandung pada Mei 1918. Firma ini tutup pada 1924, tapi reputasi Schoemaker kala itu telah mengubah namanya menjadi Wolff Schoemaker sebagai arsitek. Schoemaker diangkat menjadi profesor arsitektur di Technische Hogeschool di Bandung. Schoemaker menikmati perannya sebagai pengajar. Dalam lingkup akademik, pandangannya kerap berseberangan dengan Maclaine Pont. Debat arsitektur panjang di antara keduanya sempat menjadi polemik dan tak memiliki titik temu. Di kampus, dia dikenal dekat dengan kelompok kecil mahasiswa pribumi yang memulai aktivitas nasionalis. Di antaranya Sukarno, salah satu mahasiswanya yang paling cemerlang. Selain aktivitasnya sebagai arsitek dan akademikus, Schoemaker aktif dalam berbagai organisasi seni. Di antaranya Bandung Art Circle. Schoemaker juga dikenal sebagai pematung dan pelukis.

Salah satu karya patungnya yang terkenal adalah Monumen De Groot, yang dibangun di Taman Citarum, Bandung. Saat ini monumen itu sudah digantikan dengan bangunan masjid dan Sekolah Istiqomah. Sebagai pelukis, karya-karya Schoemaker dapat ditemukan dalam koleksi seni taipan media sekaligus pemilik Vila Isola, D.W. Beretty. C.J. van Dullemen menuturkan bahwa Sukarno memiliki setidaknya tiga lukisan karya Schoemaker. ”Saya pernah melihat sebuah lukisan besar Sukarno berbaju putih dan berpeci hitam di atelier lukis ayah saya,” kata Nachita. Ukurannya kurang-lebih 100 x 70 sentimeter dan tersimpan di salah satu museum di Jakarta. Nachita mengakui bahwa ayahnya sosok yang populer di kalangan elite Hindia Belanda. Setelah perpisahannya dengan Lucie Holfstede, ”Ayah saya selalu dikelilingi perempuan dan kerap tertarik pada perempuan,” kata Nachita.

Website : kota-bunga.net

Dari Medan hingga Surabaya

Dari Medan hingga Surabaya

TAK ada yang tersisa dari gedung yang dulu bernama Lindeteves Stokvis di Jalan Katamso Nomor 53, Medan. Lokasi tempat gedung bergaya Art Deco itu berdiri kini telah menjadi kompleks pertokoan modern dengan segala riuh aktivitas bisnisnya. Lindeteves Stokvis dirancang oleh Wolff Schoemaker pada 1921. Gedung perkantoran itu belakangan dikenal dengan nama Mega Eltra. Berjarak hanya 3 kilometer dari Stasiun Medan, gedung ini sempat berubah fungsi menjadi pusat pengelolaan dan pergudangan alat-alat perkebunan di Sumatera.

Pada Juli 2002, gedung itu diratakan dengan tanah setelah pengembang membelinya dari PT Semen Padang. Badan Warisan Sumatera sempat melakukan upaya hukum untuk mempertahankan gedung tersebut. Tapi langkah mereka terganjal. Sebab, gedung rancangan Schoemaker ini tidak termasuk kawasan bangunan bersejarah yang dilindungi Peraturan Daerah Medan Nomor 6 Tahun 1988. ”Kami hanya bisa menyelamatkan kepingan keramik lantai sebelum gedung itu dihancurkan,” kata Hairul, Ketua Pelaksana Harian Badan Warisan Sumatera, pada awal Mei lalu. Ada yang menyebut si pengembang sempat mempertahankan sedikit façade bergaya Art Deco. Tapi, ketika Tempo melihat lokasi itu, façade yang disebut-sebut masih ada itu telah tergantikan dengan rumah makan Padang.

Sedangkan nasib karya Schoemaker di Medan lainnya, gedung Nederlandsch Indische Handelsbank, lebih baik. Hingga saat ini gedung yang terletak di persimpangan Jalan Balai Kota dan Jalan Ahmad Yani masih berdiri kokoh dan difungsikan sebagai kantor cabang Bank Mandiri. Gedung yang dibangun menjelang Perang Dunia II itu terdaftar sebagai bangunan cagar budaya. Di Kota Medan, aturan perundangan menjadi momok tersendiri dalam melindungi bangunan yang bernilai sejarah di kota itu. Hairul menyebutkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Perlindungan Bangunan Bersejarah hanya melindungi 40 rumah. Tapi, ketika aturan itu diperbarui pada 2012, malah tak ada satu pun rumah yang masuk kategori tersebut. ”Padahal ada 600 rumah di Medan yang memiliki nilai sejarah dan harus dilindungi,” kata Hairul.

La Nina Datang, Produksi Padi Menjulang?

La Nina Datang, Produksi Padi Menjulang?

Fenomena La Nina atau kemarau basah melanda Indonesia sejak Juni 2016. Kemarau basah menan dakan curah hujan yang masih tinggi pada musim kemarau. Yunus S. Swarinoto, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, puncak La Nina akan terjadi pada September. La Nina diprediksi bertahan hingga Januari 2017 bahkan masih berlangsung hingga akhir musim penghujan 2017.

Apa dampaknya terhadap produksi padi nasional? Dampak Positif dan Negatif Menurut Nandang Sunandar, fenomena La Nina membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatif berupa gangguan produksi padi di lahan rawa, seperti di Kalimantan dan Sumatera cukup besar karena tergenang. “La Nina diperkirakan hanya akan menggunakan (merugikan) lahan rawa sekitar 60% dari potensi,” ulas Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) itu. Sebagai dampak positif, “Minimum akan terjadi penambahan luas tanam 1,2 juta ha. Atau, 1 juta ha lebih tinggi da ri rata-rata 5 tahun pertanaman antara Juni, Juli, Agustus, dan September,” tandasnya.

Jikapun terjadi La Nina kuat, hanya mengganggu lahan tanam sekitar 70 ribu – 100 ribu ha. Nandang menjelaskan, pada musim kemarau (MK) II 2016 ada empat lahan potensial untuk tanam padi berdasarkan tipe curah hujan. Lahan dengan curah hujan kurang dari 150 mm/ bulan tidak akan ditanami padi tetapi beralih ke jagung, curah hujan 150–200 mm/bulan ditanam padi 45%, curah hujan 200–300 mm/bulan ditanam padi 85%, dan curah hujan di atas 300 mm/bulan 100% ditanami padi.

Berdasarkan kondisi tersebut lahan sawah dan lahan kering yang bisa digunakan untuk menanam padi berturut-turut mencapai 4,3 juta dan 264 ribu ha. Sedangkan kerugian akibat La Nina di lahan rawa sekitar 207 ribu ha. Sehingga, luas tanam padi pada Juni-September 2016 akibat La Nina mencapai 4,370 juta ha. Sebab, ungkap Doktor bidang Eko nomi Pertanian lulusan UGM itu, ratarata luas tanam lima tahunan pada Juli, Agustus, dan September biasanya masing-masing sebesar 703 ribu ha, 530 ribu ha, dan 685 ribu ha. Dengan kejadian kemarau basah, luas tanam Juli hingga September 2016 meningkat menjadi 1,010 juta ha, 1,450 juta ha, dan 1,339 juta ha.

Surplus Produksi

Nandang optimistis produksi padi tahun ini bisa menyentuh angka 77,5 juta78 juta ton GKG. “Tar get (produksi) tahun ini 76,23 juta ton GKG. Kira-kira (produksi) naik 3 juta ton GKG dari itu, sekitar 77,5 juta78 juta ton GKG,” paparnya. Dengan penambahan luas tanam pada Juli hing ga September, imbuhnya, produksi beras nasional tahun ini surplus sekitar 13-14 juta ton beras. “Sampai Agustus ini sa ja sudah 12 juta ton beras akumulasi surplusnya,” klaim Nandang. Kemungkinan terjadinya kenaikan produksi ini diamini Dudy Kristyanto, Marketing Manager PT Bina Guna Ki mia. “Luas tanam bertambah. Saya melihat dari iklim dan pergerakan ekonomi dengan harga relatif baik. Kalau musim kemarau biasanya tanam jagung, sekarang balik lagi ke padi. Ini bisa mendukung pertumbuhan produksi. Kemungkinan besar ada peningkatan produksi,” tandasnya.

Upaya Meningkatkan Standar Perdagangan Biji Kakao

Upaya Meningkatkan Standar Perdagangan Biji Kakao

Sampai sekarang masih banyak petani menjual produksi kakaonya dalam bentuk biji belum difermentasi yang dihargai rendah oleh pedagang. Mereka tidak mau repot mengolah biji kakao karena masih ada yang mau membeli kakao nonfermentasi tersebut. Untuk mendorong petani, pedagang, dan industri memproduksi dan menggunakan biji kakao fermentasi, pemerintah meluncurkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.67/Permentan/OT.140/5/2014 tentang persyaratan mutu dan pemasaran biji kakao. Untuk mendukung operasionalisasi beleid yang keluar 12 Mei 2014 tersebut, pada 1 April 2015 pemerintah menerbitkan empat pedoman, yaitu 1) Pe doman Pembentukan UFPBK, Penerbitan STP, dan Penerbitan SKAL_BK 2) Pe doman Penanganan Pascapanen 3) Pedoman Penerbitan SKKM dan SJM_BK dan 4) Pedoman Pengambilan Contoh dan Pengujian Mutu Biji Kakao.

Ditunda 36 Bulan

Permentan 67 mengatur, kakao yang diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib menyertakan Surat Keterangan Asal Lokasi Biji Kakao (SKAL-BK) dari Unit Fermentasi dan Pemasaran Biji Kakao (UFPBK) yang menerangkan asal biji kakao dan telah memenuhi persyaratan mutu sebagai pelengkap administrasi dalam proses perdagangan dan/ atau peredaran biji kakao. Tapi dalam Permentan itu tidak dinyatakan secara jelas batasan luasan atau produksi untuk membentuk satu UFPBK. “Kami mengharapkan dalam satu desa sentra kakao dapat terbentuk satu UFPBK. Namun kondisi saat ini masih jauh dari yang kami harapkan. Calon UFPBK yang terbentuk baru dua untuk setiap provinsi dan belum teregister,” ungkap Ir. Dedi Junaedi, M.Sc., Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian. Implementasi Permentan 67/2014 di lapangan ternyata menghadapi sejumlah kendala.

Berita Lain : kota-bunga.net

Menurut Dedi, ada lima hal yang menyebabkan beleid itu belum dapat diberlakukan seperti rencana semula, yakni 21 Mei 2016. Pertama, adanya perubahan nomenklatur organi sasi Kementerian Pertanian sebagai wujud implementasi dari Permentan No.43 tahun 2015 tentang Tata Or ganisasi Kementerian Pertanian. Selain itu, lanjut dia, pengurangan anggaran di Kementerian Pertanian pada 2016 juga menghambat upaya penyiapan infrastruktur (kelembagaan, SDM, modal) untuk implementasi Permentan. Tambahan lagi, ada permintaan penundaan dan pengkajian kembali pemberlakuan Permentan No. 67/Permentan/OT.140/5/2014 dari para pemangku kepentingan (stakeholder). Pun hasil rapat pertemuan terbatas di Dewan Pertimbangan Presiden tanggal 20 April 2016 tentang Implementasi, Deregulasi, Debirokrasi, dan Fasilitas pada Industri Makanan dan Minuman mendukung penundaan.

Apalagi berdasarkan uji petik di beberapa sentra kakao dijumpai kurangnya infrastruktur pendukung, yaitu: 1) jumlah UFPBK belum cukup akibat beberapa kendala seperti kurangnya/tidak ada modal usaha, kelembagaan petani kurang solid serta keterbatasan sarana dan prasarana, dan (2) SDM Pembina dan Pengawas UFPBK terbatas. Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, “Kami memandang perlu untuk menunda pemberlakuan permen tan dimaksud selama 36 bulan,” ujar Dedi yang sebelumnya menjabat Di rektur Pemasaran Internasional, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian ini.

Melibatkan Kementerian Terkait

Agar implementasi peraturan itu tidak lagi menghadapi kendala, Kementerian Pertanian akan mengkaji secara komprehensif Permentan No.67/2014 dan peraturan teknis lainnya yang melibatkan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. “Kami juga mendorong dua kementerian itu untuk segera mengeluarkan regulasi terkait guna mendukung pemberlakuan Permentan ini sehingga dapat mengatasi kekosongan regulasi yang mengatur per dagangan, khususnya harga dan penekanan kepada industri pengolahan cokelat untuk dapat menyerap kakao fermentasi yang telah dihasilkan petani melalui UFPBK,” tandas Dedi. Pihaknya juga menyusun rencana aksi sebagai berikut: 1.

Sosialisasi peraturan dan pedoman pendukung Permentan No.67/2014 agar dapat dipahami semua pemangku kepentingan (stakeholder) di bidang kakao 2. Membangun kelembagaan (capacity building) pengujian mutu kakao dengan tujuan agar petani/petugas yang ditunjuk UFPBK mampu serta terampil dalam menguji dan menilai kakao yang dihasilkannya 3. Menerapkan sistem jaminan mutu kakao supaya UFPBK dapat menerapkan kaidah-kaidah sistem jaminan mutu sehingga mampu dan memperoleh Sertifikat Jaminan Mutu (SJM) dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) 4. Memberikan bantuan peralatan pascapanen kepada calon-calon UFPBK 5. Memberikan bantuan peralatan pengolahan kepada UFPBK yang secara mandiri mampu menghasilkan produk olahan cokelat agar petani menikmati nilai tambah dari kakao 6. Membangun kelembagaan pengawas mutu kakao yang berasal dari OKKPD dengan tujuan agar pengawas mutu mampu serta terampil dalam pengujian mutu kakao dan menilai kesesuaian UFPBK pada proses mendapatkan sertifikat jaminan mutu kakao.

Penambahan UFPBK

Untuk memperlancar penerapan Permentan 67 di lapangan, pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota perlu menindaklanjutinya dengan regulasi teknis berbasis kearifan lokal. Karena itu, menurut Dedi, pada rencana kerja 2017-2019, pihaknya menargetkan penambahan 36 UFPBK dengan petani binaan masing-masing sebanyak 20 orang per tahun. “Ke-36 UFPBK ini tersebar di 18 provinsi sentra kakao penerima dana dekonsentrasi penerapan sistem jaminan mutu kakao dengan total anggaran Rp. 3,3 miliar per tahun,” jelasnya. Jadi, pada 2019 ditargetkan terbentuk 132 UFPBK dengan total petani 2.640 orang yang tersebar di provinsi sentra kakao, terdaftar dan siap disertifikasi jaminan mutu oleh OKKPD.

Rencana kerja 2017–2019 juga menargetkan 20 orang petani per tahun yang dilatih mampu dan terampil menguji mutu kakao di 18 provinsi sentra kakao penerima dana dekonsentrasi capacity building pengujian mutu kakao dengan total anggaran Rp. 2 miliar per tahun. “Pada 2019 total petani terampil menguji mutu kakao sebanyak 1.320 orang yang tersebar di provinsi sentra kakao,” ulas Dedi. Pemerintah Pusat mengalokasikan dana bersifat pemicu sehingga seluruh rencana aksi tersebut tentu belum dapat mencakup target satu desa satu UFPBK. Karena itu diperlukan kerjasama dan peran aktif pemerintah daerah, asosiasi, eksportir, pedagang pengumpul, dan industri pengolahan cokelat dalam membentuk dan membina UFPBK yang menjadi mitranya agar mampu menghasilkan kakao bermutu sesuai amanat Permentan 67.