Bukan Sekadar Situs Listing Properti ala autotrade gold

Bukan Sekadar Situs Listing Properti ala autotrade gold – Hadir di Indonesia pada 2014, Lamudi Indonesia bergerak cukup agresif di pasar. Pada Februari lalu, perusahaan listing properti global asal Jer- man ini mengakuisisi salah satu situs listing properti lokal, PropertyKita.com. Pertumbuhan karyawan juga cukup signifikan dari dua orang pegawai di kantor bersama, hingga kini memiliki lebih dari 50 pegawai di empat kota, Jakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya. Jumlah listing yang dimiliki perusahaan ini kini sekitar 250.000 listing dari 246 kota di Indonesia. Perusahaan listing properti ini ada di 32 negara.

Seperti perusahaan hasil gemblengan Rocket Internet lainnya, Lamudi juga mengincar negara-negara berkembang untuk mendirikan usaha. Rocket Internet adalah inkubator asal Jerman. Inkubator yang terkenal ketat dan penuh kerja keras inilah yang juga melahirkan Lazada dan Zalora, dua perusahaan e-commerce yang telah cukup dikenal di Indonesia. Adalah Steven Ghoos yang kini menahkodai kapal Lamudi di Indonesia. Sebelumnya, pria ini turut membidani Lazada di Vietnam. Pindah sebagai kepala Lamudi di Jakarta, menurutnya segalanya lebih baik di Jakarta untuk bisnis, “kecuali polusi dan macetnya,” sela pria berambut keriting ini sembari terkekeh.

Menurut Ghoos, kehadiran Lamudi dan situs listing properti lainnya bukanlah ancaman bagi para agen properti. Sebab, posisi mereka adalah sebagai saluran promosi baru bagi para agen, bukan bertindak sebagai penjual langsung. “Kami murni hanya perantara, tidak ada transaksi yang terjadi melalui Lamudi. Semua transaksi terjadi langsung antara agen dan pembeli,” tandasnya. Bagi Anda yang ingin mengenal Lamudi Indonesia lebih jauh, berikut petikan wawancara CHIP dengan Co-Founder dan Managing Director Lamudi Indonesia itu.

Bagaimana potensi bisnis dan tren properti di Indonesia? Pasar yang besar dengan nilai USD 3,2 miliar. Kami melihat potensi pasar berikutnya datang dari kelas menengah, sebab pasar perumahan high end mulai jenuh. Dan untuk memenuhi kebutuhan ini, pengembang peruahan hanya sediakan 70% dari kebutuhan kelas menengah itu. Sementara itu, di Indonesia, kebanyakan kelompok kelas menengah ini mencari tempat tinggal berupa rumah baru.

Sumber : https://teknorus.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *