Mengenakan Pakaian Ketat, Amankah?

Walau hamil, Mama tentu bisa tetap tampil modis. Mengenakan pakaian dengan ukuran pas di tubuh, menjadi salah satu pilihan gaya. Tetapi, amankah pakaian ketat bagi Mama dan janin? Bahagianya, ya, Ma, saat tahu si buah hati di kandungan sudah tumbuh semakin besar di trimester kedua ini.

Baca juga : Kerja di Jerman

Beberapa pakaian yang dulu masih bisa Mama kenakan selama trimester pertama, bisa jadi mulai sempit atau bahkan tidak muat lagi. Walau masih ada beberapa pakaian, seperti celana dengan bahan lentur atau terusan berbahan kaus yang masih bisa dikenakan, bila sudah terasa atau terlihat begitu ketat, ada baiknya Mama hindari. “Pakaian ketat bagi sebagian orang dianggap membuat penampilannya jadi terlihat modis dan menarik. Ini merupakan tren tersendiri di semua orang di dunia. Namun, pakaian ketat tidak aman digunakan oleh perempuan hamil karena berbagai alasan,” kata dr. Farah Dina, SpOG.

Inilah alasan-alasannya. Pakaian Ketat Perlambat Sirkulasi Darah. Pada trimester kedua hingga ketiga adanya peningkatan volume darah yang dari plasenta menuju ke arah janin. Lewat darah, pasokan oksigen dan nutrisi disalurkan dari Mama menuju si jabang bayi. Nah, saat mengenakan pakaian ketat, sirkulasi darah dapat terhambat dan membuat tekanan darah Mama menurun. Efeknya, aliran darah menuju janin jadi berkurang. Bila aliran darah menuju janin berkurang, otomatis asupan oksigen dan nutrisi menuju janin juga berkurang.

Akibatnya, janin bisa kekurangan oksigen dan denyut jantungnya menjadi tidak teratur. Bila dibiarkan berlarut, kondisi ini bisa mengarah pada gawat janin, yakni denyut jantung janin menjadi lemah karena kekurangan oksigen. Akibatnya, perkembangan janin menjadi jelek. Memicu Sesak dan Panas di Dada. Bila usia kandungan sudah mendekati akhir trimester kedua, heartburn atau rasa panas dan sesak di sekitar dada merupakan salah satu kondisi yang lumrah terjadi pada sebagian mamil.

Saat janin semakin besar, rahim semakin memenuhi rongga perut dan akan menekan lambung serta usus. Selain menimbulkan rasa sesak, tekanan tersebut bisa membuat asam lambung lebih mudah naik. Biasanya, saat mamil makan terlalu banyak atau mengonsumsi makanan pemicu naiknya asam lambung, akan timbul sensasi sesak dan panas di sekitar dada menuju kerongkongan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *