Pertimbangan Penting Bila Melahirkan Di Rumah

Pastikan Mama didampingi oleh dokter atau bidan. Riset yang dilakukan oleh Dr. Amos Grunebaum, direktur bagian obstetri di New York-Presbyterian Hospital memperlihatkan, semakin banyak mamil yang memutuskan untuk bersalin di rumah, karena lingkungan yang familiar membuatnya lebih tenang dan nyaman. Angka persalinan di rumah ini bahkan sudah mencapai 79% dan sebagian besar bukanlah persalinan anak pertama.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Namun, yang memprihatinkan, menurut Grunebaum persalinan di rumah ini sering kali terjadi tanpa kehadiran dokter atau bidan. Padahal, ini bisa meningkatkan risiko kematian bayi ataupun penyakit lainnya. Sejauh ini, American College of Obstetricians and Gynecologists menyatakan, persalinan di rumah boleh saja dijalani selama mama dalam kondisi sehat, tidak mengandung bayi kembar, serta memenuhi beberapa kriteria lainnya. Yang terpenting lagi, sebaiknya pihak medis hadir untuk membantu proses kelahiran.

Gas Tawa Alternatif Epidural

Selama ini, gas tawa lebih banyak digunakan di praktik dokter gigi. Namun, beberapa klinik persalinan di Amerika Serikat juga mulai menggunakan gas tawa atau nitro oksida untuk membantu proses persalinan. Menurut Dr. Errol Norwitz, Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Tufts Medical Center, Boston, gas yang berupa kombinasi antara nitro oksida dan oksigen ini diberikan melalui masker dan menimbulkan reaksi dalam waktu singkat.

Gas tawa juga dapat menjadi alternatif yang lebih aman dan hemat dibandingkan epidural, demikian menurut riset yang dimuat di jurnal Birth: Issues in Perinatal Care ini. Menurut laporan National Institutes of Health, bayi baru lahir dari mama yang menggunakan gas tawa memiliki skor APGAR yang sama dengan bayi yang lahir dari mama yang menggunakan jenis pereda sakit lain atau tanpa pereda sakit sama sekali.

Teknologi Cahaya Cegah Kelahiran Prematur

Hasil temuan Florida State University (FSU) berupa alat yang menyorotkan cahaya biru ke mata mamil saat sedang tertidur ini, sebentar lagi bisa dimanfaatkan. Alat ini merupakan hasil studi yang dilakukan Profesor James Olcese, asisten profesor dari FSU College of Medicine, yang mengamati bahwa selama ini kebanyakan perempuan melahirkan di malam hari ketika kadar hormon melatonin mencapai puncaknya.

Riset tambahan yang dilakukan Olcese menemukan, ketika perempuan dipaparkan cahaya biru terang selama satu jam di malam hari, kadar melatoninnya akan turun, sehingga kontraksi yang dialami juga berkurang dan persalinan prematur dapat ditunda. Ke depannya, prototipe yang masih berbentuk kacamata ini akan dikembangkan menjadi masker sehingga lebih nyaman dikenakan.

Sumber : pascal-edu.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *