Mimpi Buruk Sang Kanselir

SEPERTI mitraliur, kritik memberondong Angela Merkel. ”Saat ini hampir tidak ada yang meragukan hubungan antara arus pengungsi dan serangan teroris,” kata Presiden Republik Cek Milos Zeman dalam pidato Natal. Zeman menuding serangkaian teror di Eropa dipicu oleh gelombang pencari suaka dari negara-negara miskin yang dicabik perang. Kecaman pedas juga meluncur dari politikus sayap kanan kenamaan Eropa. Marine Le Pen di Prancis, Geert Wilders di Belanda, dan Nigel Farage di Inggris, nama-nama yang menjadi beken berkat jargon serba anti: anti-imigran, anti-Islam, dan anti-Uni Eropa.

Di Jerman, Frauke Petry, pemimpin Partai Alternatif untuk Jerman (AfD), berbaris dalam kubu penentang Merkel. Petry menuding arus pengungsi ke Jerman sejak 2015 menjadi pangkal soal tragedi Berlin. ”Kita jangan sampai terbawa ilusi,” katanya sembari menyoroti negara asal pengungsi, yang sebagian besar dari Timur Tengah dan Afrika Utara. ”Lingkungan tempat kejahatan (teror) tersebut berkembang telah diimpor secara sistematis ke Jerman.” Adalah Merkel, 62 tahun, lewat kebijakan pintu terbuka, yang telah membiarkan 1,2 juta pendatang mengajukan suaka di Jerman. Mereka umumnya kabur dari negara kon?ik, antara lain Suriah, Irak, dan Afganistan.

Ada pula pencari suaka dari Tunisia, seperti Anis Amri, dan negara Afrika lainnya. Banyak dari mereka masuk Benua Biru tanpa paspor. Maka tak mengherankan jika Merkel geram mendapati fakta tentang Amri. Apalagi Amri kemudian tewas ditembak polisi Italia di Milan, tiga hari setelah aksi teror. Menjadi buron di seantero Eropa, Amri rupanya leluasa berpindah negara. Ini semakin membenarkan tudingan para penentang Merkel, yang mengkritik longgarnya tapal batas Eropa akibat zona bebas visa Schengen.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *