Kisah Hidup Wolff Schoemaker juga Penuh Drama

Kisah Hidup Wolff Schoemaker juga Penuh Drama

Dia menikahi Lucie Holfstede, gadis Belanda yang dikenalnya sejak remaja di Nijmegen. Pernikahan itu menghasilkan lima anak. Namun, setelah 12 tahun, mereka bercerai. Ketika kontrak empat tahun di KNIL berakhir, Schoemaker mundur atas permintaan sendiri. Dia meniti karier di departemen pekerjaan umum, lalu di perusahaan importir peralatan teknik, Carl Schlieper & Co. Pada masa itu, dia sempat tinggal di kota-kota besar Amerika Serikat untuk mengamati karya-karya Frank Lloyd Wright. Ketika kembali, Schoemaker bersama adiknya, Richard Leonard, mendirikan firma C.P.

Schoemaker en Associate Architecten & Ingenieurs di Bandung pada Mei 1918. Firma ini tutup pada 1924, tapi reputasi Schoemaker kala itu telah mengubah namanya menjadi Wolff Schoemaker sebagai arsitek. Schoemaker diangkat menjadi profesor arsitektur di Technische Hogeschool di Bandung. Schoemaker menikmati perannya sebagai pengajar. Dalam lingkup akademik, pandangannya kerap berseberangan dengan Maclaine Pont. Debat arsitektur panjang di antara keduanya sempat menjadi polemik dan tak memiliki titik temu. Di kampus, dia dikenal dekat dengan kelompok kecil mahasiswa pribumi yang memulai aktivitas nasionalis. Di antaranya Sukarno, salah satu mahasiswanya yang paling cemerlang. Selain aktivitasnya sebagai arsitek dan akademikus, Schoemaker aktif dalam berbagai organisasi seni. Di antaranya Bandung Art Circle. Schoemaker juga dikenal sebagai pematung dan pelukis.

Salah satu karya patungnya yang terkenal adalah Monumen De Groot, yang dibangun di Taman Citarum, Bandung. Saat ini monumen itu sudah digantikan dengan bangunan masjid dan Sekolah Istiqomah. Sebagai pelukis, karya-karya Schoemaker dapat ditemukan dalam koleksi seni taipan media sekaligus pemilik Vila Isola, D.W. Beretty. C.J. van Dullemen menuturkan bahwa Sukarno memiliki setidaknya tiga lukisan karya Schoemaker. ”Saya pernah melihat sebuah lukisan besar Sukarno berbaju putih dan berpeci hitam di atelier lukis ayah saya,” kata Nachita. Ukurannya kurang-lebih 100 x 70 sentimeter dan tersimpan di salah satu museum di Jakarta. Nachita mengakui bahwa ayahnya sosok yang populer di kalangan elite Hindia Belanda. Setelah perpisahannya dengan Lucie Holfstede, ”Ayah saya selalu dikelilingi perempuan dan kerap tertarik pada perempuan,” kata Nachita.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *