Trauma untuk melakukan Healing

sat-jakarta.com – Selain mampu membuat boneka jari, Rochma pun bisa mendongeng menggunakan boneka-boneka tersebut. Kemampuan ini ia gunakan dalam program trauma healing yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga terhadap anak-anak korban letusan Gunung Kelud, Maret 2014. “Ini untuk mengatasi trauma psikologis yang diderita korban, terutama anak-anak,” kata Rochma.

Baca juga : kursus IELTS terbaik di jakarta

Salah satu caranya dengan menghibur lewat dongeng. “Mereka sangat tertekan, sedih, dan bingung karena kehilangan tempat tinggal, orangtua, saudara, juga teman dan tetangganya.” Menurutnya, setiap anak berhak bahagia, termasuk anak-anak yang kena musibah. Maka, ia pun mencari informasi mengenai anak-anak yang butuh pertolongan. “Awalnya pada waktu itu saya telah bertemu dengan seorang penderita atresia bilier, saya kuatkan orangtuanya untuk tabah,” kenangnya.

Namun, hal itu tak cukup, mereka butuh bantuan dana karena pengobatannya sangat mahal. Lewat jejaring pertemanan di Facebook, Rochma mengajak teman-temannya untuk membantu penderita atresia bilier ini. “Sambutannya sangat positif dan banyak yang memberikan donasi,” ucapnya. Sejak saat itu, banyak informasi yang datang kepada Rochma mengenai anak yang terkena musibah.

“Biasanya saya datangi, ngobrol dengan orangtuanya, lihat kondisinya, juga pengobatan apa yang dibutuhkan,” ungkap lulusan PGTK Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini. Selanjutnya, di media sosial, Rochma mengajak teman-temannya untuk membantu. “Alhamdulillah responsnya selalu baik dan tidak ada kendala.” Hingga kini ada sekitar 20 anak yang disubsidi oleh Rochma dan teman-temannya. “Ada anak yang mengalami atresia bilier, anemia aplastik, kecelakaan, tumor, hidrosefalus, talasemia, kanker, dan lainnya.”

Seiring waktu, kepercayaan orang terhadap Rochma meningkat karena ia selalu melaporkan aliran dananya. Meski begitu, ia tak ingin mengubah gerakannya ini menjadi sebuah lembaga. “Saya inginnya ada anak yang butuh dana, selama datanya valid, dana langsung diberikan,” ucap perempuan yang sedang menggalakkan tagar #kecanduansedekah di jejaring sosial ini. Menurutnya, sebuah lembaga pasti butuh dana cash lumayan banyak untuk gaji staf, administrasi kantor, dan lainnya. “Biarkan.

Saya lebih kepada mengajak komunitas dan teman-teman,” ucapnya. Namun, Rochma merasa dana yang dibutuhkan masih kurang sehingga ia memutuskan memotong keuntungan penjualan boneka jarinya untuk disumbangkan kepada anak yang terkena musibah. “Saya potong 30% dari keuntungan menjual beberapa seri boneka untuk disumbangkan. Jadi, yang membeli boneka jari, selain mendapatkan boneka, juga bersedekah buat yang membutuhkan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *