La Nina Datang, Produksi Padi Menjulang?

La Nina Datang, Produksi Padi Menjulang?

Fenomena La Nina atau kemarau basah melanda Indonesia sejak Juni 2016. Kemarau basah menan dakan curah hujan yang masih tinggi pada musim kemarau. Yunus S. Swarinoto, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, puncak La Nina akan terjadi pada September. La Nina diprediksi bertahan hingga Januari 2017 bahkan masih berlangsung hingga akhir musim penghujan 2017.

Apa dampaknya terhadap produksi padi nasional? Dampak Positif dan Negatif Menurut Nandang Sunandar, fenomena La Nina membawa dampak positif dan negatif. Dampak negatif berupa gangguan produksi padi di lahan rawa, seperti di Kalimantan dan Sumatera cukup besar karena tergenang. “La Nina diperkirakan hanya akan menggunakan (merugikan) lahan rawa sekitar 60% dari potensi,” ulas Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) itu. Sebagai dampak positif, “Minimum akan terjadi penambahan luas tanam 1,2 juta ha. Atau, 1 juta ha lebih tinggi da ri rata-rata 5 tahun pertanaman antara Juni, Juli, Agustus, dan September,” tandasnya.

Jikapun terjadi La Nina kuat, hanya mengganggu lahan tanam sekitar 70 ribu – 100 ribu ha. Nandang menjelaskan, pada musim kemarau (MK) II 2016 ada empat lahan potensial untuk tanam padi berdasarkan tipe curah hujan. Lahan dengan curah hujan kurang dari 150 mm/ bulan tidak akan ditanami padi tetapi beralih ke jagung, curah hujan 150–200 mm/bulan ditanam padi 45%, curah hujan 200–300 mm/bulan ditanam padi 85%, dan curah hujan di atas 300 mm/bulan 100% ditanami padi.

Berdasarkan kondisi tersebut lahan sawah dan lahan kering yang bisa digunakan untuk menanam padi berturut-turut mencapai 4,3 juta dan 264 ribu ha. Sedangkan kerugian akibat La Nina di lahan rawa sekitar 207 ribu ha. Sehingga, luas tanam padi pada Juni-September 2016 akibat La Nina mencapai 4,370 juta ha. Sebab, ungkap Doktor bidang Eko nomi Pertanian lulusan UGM itu, ratarata luas tanam lima tahunan pada Juli, Agustus, dan September biasanya masing-masing sebesar 703 ribu ha, 530 ribu ha, dan 685 ribu ha. Dengan kejadian kemarau basah, luas tanam Juli hingga September 2016 meningkat menjadi 1,010 juta ha, 1,450 juta ha, dan 1,339 juta ha.

Surplus Produksi

Nandang optimistis produksi padi tahun ini bisa menyentuh angka 77,5 juta78 juta ton GKG. “Tar get (produksi) tahun ini 76,23 juta ton GKG. Kira-kira (produksi) naik 3 juta ton GKG dari itu, sekitar 77,5 juta78 juta ton GKG,” paparnya. Dengan penambahan luas tanam pada Juli hing ga September, imbuhnya, produksi beras nasional tahun ini surplus sekitar 13-14 juta ton beras. “Sampai Agustus ini sa ja sudah 12 juta ton beras akumulasi surplusnya,” klaim Nandang. Kemungkinan terjadinya kenaikan produksi ini diamini Dudy Kristyanto, Marketing Manager PT Bina Guna Ki mia. “Luas tanam bertambah. Saya melihat dari iklim dan pergerakan ekonomi dengan harga relatif baik. Kalau musim kemarau biasanya tanam jagung, sekarang balik lagi ke padi. Ini bisa mendukung pertumbuhan produksi. Kemungkinan besar ada peningkatan produksi,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *